Belajar dari “Alpa” TEMPO

Oleh: Yunanto

Sabertipikor.com, Malang – Jurnalisme (faham jurnalistik) khas Majalah Berita Mingguan TEMPO telah lama memikat khalayak komunikan media massa di Tanah Air. Ekspektasi tinggi khalayak komunikan terhadap elemen _why_ (mengapa) dan _how_ (bagaimana) atas _what_ (apa) dan _who_ (siapa), mampu dipenuhi oleh TEMPO.

Pendek kata, TEMPO mampu “menjual misteri” _why_ dan _how_ di balik _what_ dan _who_. Jawaban atas “misteri” itulah yang dinantikan oleh khalayak komunikannya. Tak perduli harus menunggu sepekan. Bahkan, tak perduli telah “habis” diwartakan media tanpa jeda, seperti pada _Breaking News_ media audio-visual (televisi).

Lemahnya elemen _when_ (kapan peristiwa terjadi), menjadi tidak berpengaruh negatif terhadap media massa yang periodisitasnya tidak harian, seperti TEMPO. Kendati elemen _when_ merupakan salah satu unsur penentu tinggi-rendah bobot nilai berita dari aspek NKA (nilai kadar aktualitas), namun “tertutup rapat” oleh kekuatan elemen _why_ dan _how_ atas _what_ dan _who_.

Khusus elemen _where_ (lokasi _what_ dan _who_) diperhitungkan sebagai faktor penguat _why_ dan _how_ yang berkorelasi kuat dengan _who_ di dalam _what_. Elemen _where_ lazim “dipagari” asas _proximity_ karena berdampak pada bobot nilai berita. _Proximity_ adalah jarak antara tempat terjadinya peristiwa ( _what_) dengan tempat terbit media massanya. Misal, kerusuhan di Kutub Utara _proximity_-nya rendah bagi media massa di Indonesia.

Sudah pasti, jurnalisme _ala_ TEMPO menuntut kepiawaian yang sangat tinggi dalam ihwal teknik mengolah bahan berita. Seiring dengan itu, dituntut pula keahlian prima dalam teknik merangkai kata menjadi kalimat, dan merangkai kalimat menjadi paragraf.

Tak pelak lagi, asas _paragraphing_ yang kuat dan indah, menjadi harga mati bagi para jurnalis TEMPO. Landasan semua itu adalah ketaatan pada kaidah berbahasa jurnalistik. Bukan bahasa pasaran. Kaidah bahasa jurnalistik dimaksud: _singkat, lugas, logis, taat kata baku, mudah dicerna_ dan _enak dibaca_.

Aksioma berikutnya, sebuah karya jurnalistik bisa bermutu bagus bila jurnalisnya memiliki kemampuan _check and recheck_ berakurasi tinggi. Kemampuan itu disempurnakan dengan luasnya jaringan narasumber yang “dimiliki”. Saya percaya TEMPO punya itu semua.

*Terpeleset Etik*
Di sebuah grup _WhatsApp_, ada yang menarasikan pernyataan dalam nada heran. Intinya, “sekelas TEMPO bisa melanggar Kode Etik Jurnalistik”. Wajar saja respon keheranan seperti itu terhadap TEMPO. Kewajaran bertolak dari faktual rekam jejak dan kualitas karya jurnalistik khas TEMPO.

Bisa dimaklumi, ekspektasi khalayak komunikan terhadap TEMPO telanjur tinggi. Maka khalayak komunikan pun sontak terhenyak tatkala majalah berita mingguan itu diadukan ke Dewan Pers (dan sempat pula dilaporkan ke polisi).

Diwartakan, Dewan Pers akhirnya mengeluarkan rekomendasi terkait produk jurnalistik TEMPO bertajuk “Tim Mawar dan Rusuh Sarinah”, pada edisi 22-26 Juni 2019. Rekomendasi Dewan Pers Nomor 25/PPR-DP/VI/2019 itu merupakan _feedback_ atas pengaduan Mayjen TNI (Purn) Chairawan, mantan Komandan “Tim Mawar”.

Inti isi rekomendasi Dewan Pers, TEMPO melanggar Pasal 3, Kode Etik Jurnalistik. Ketua Dewan Pers, M. Nuh, menyebutkan pewartaan TEMPO di edisi tersebut memuat opini yang menghakimi. Pasalnya, “Tim Mawar” yang terlibat penculikan aktifis (1998) sudah bubar.

Demikian pula artikel lain pada edisi yang sama, di bawah judul “Bau Mawar di Jalan Thamrin”. M. Nuh menyebut keterlibatan salah satu anggota “Tim Mawar” dalam kerusuhan di Jakarta, 21-22 Mei 2019, tidak disertai data yang mendukung kuat.

Lantaran dinilai terbukti ada pelanggaran etik tersebut, Dewan Pers merekomendasikan tiga poin solusi etik.
_Pertama_, TEMPO memuat hak jawab pengadu (Mayjen TNI Purn. Chairawan) dan meminta maaf kepada pengadu serta pembaca. Hal tersebut harus dipublikasikan TEMPO, selambatnya pada edisi berikutnya setelah hak jawab diterima.

_Kedua_, hak jawab dan permohonan maaf tersebut juga harus dipublikasikan di media siber, karena TEMPO juga mempublikasikan di media siber.
_Ketiga_, pihak pengadu diberi kesempatan menyampaikan hak jawab kepada TEMPO selambat-lambatnya tujuh hari setelah diterimanya rekomendasi Dewan Pers tersebut.

Rekomendasi Dewan Pers tersebut sesuai dengan UU RI No. 40/ Tahun 1999 tentang Pers. Keputusan Dewan Pers dalam rekomendasi tersebut bersifat final dan mengikat secara etik.

*Unsur Pasal 3*
Sekitar tujuh tahun setelah lahir UU RI No. 40/Tahun 1999 tentang Pers, lahirlah Kode Etik Jurnalistik (KEJ) baru. “KEJ Reformasi” tersebut dilahirkan di Jakarta, Selasa, 14 Maret 2006. Terdiri atas empat paragraf di mukadimah dan 11 pasal.

KEJ yang lahir di orde reformasi tersebut ditandatangani 30 orang pimpinan atau ketua organisasi wartawan (mayoritas) dan organisasi perusahaan pers. Mereka, antara lain, Wina Armada Sukardi (PWI), Abdul Manan (AJI), Bekti Nugroho (IJTI) dan Mahtum Mastoem (SPS).

Rekomendasi Dewan Pers terkait dengan “kealpaan” TEMPO edisi 22-26 Juni 2019, menukik ke Pasal 3 KEJ. Pasal ini berisi satu kalimat yang terdiri atas 21 kata. Selengkapnya sebagai berikut: “Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tidak bersalah”.

Ada empat unsur pasal di dalam Pasal 3 KEJ tersebut. Tafsir atas KEJ yang disusun Asnawin, merincikan: (1) “Menguji informasi” berarti melakukan _check and recheck_ tentang kebenaran informasi itu; (2) “Berimbang” bermakna memberi ruang/waktu pemberitaan kepada masing-masing pihak secara proporsional; (3) “Opini yang menghakimi” adalah pendapat pribadi wartawan; dan (4) “Asas praduga tidak bersalah” adalah prinsip tidak menghakimi seseorang.

Satu alinea lagi, bahan perenungan untuk menutup artikel ini. Saya kutipkan dari paragraf tiga di mukadimah KEJ. Intinya: “Pers dalam melaksanakan fungsi, hak, kewajiban dan peranannya, diwajibkan menghormati hak asasi setiap orang. Lantaran itu wartawan harus profesional dan terbuka untuk dikontrol oleh masyarakat.☆

Catatan Redaksi:
Yunanto alumni Sekolah Tinggi Publisistik – Jakarta; wartawan Harian Sore “Surabaya Post” 1982 – 2002.

Related posts

Leave a Comment