Khawatir Hadapi Lahan Sengketa di Sumberejo, Warga Bakal Lakukan Upaya Hukum

6 views

Kades Sumberejo, Riyanto saat diwawancarai beberapa awak media 

Sabertipikor.com, Kota Batu – Kelanjutan prosesi pembangunan lapangan di Desa Sumberejo, Kecamatan Batu, Kota Batu itu, masih terkendala dan dikabarkan dari salah satu warga ada yang mengklaim atas kepemilikan lahan tersebut.

Maka tak heran, meski sudah menghabiskan anggaran kisaran Rp 91 Juta, untuk biaya Bulldozer guna perataan tanah lapangan bola di desa tersebut.

Namun, pihak desa setempat khawatir dengan bukti dari pihak yang mengklaim tanah itu, karena bukti kepemilikannya benar adanya. Dan kekhawatiran itu, diakui Kepala Desa (Kades) setempat. Yakni, Riyanto, Minggu (5/5/2019).

“Ya, rencana pembangunan itu masih saya tunda, karena ada permasalahan status kepemilikan lahannya. Ada salah satu warga yang mengaku bahwa lahan tersebut miliknya, serta mengaku pula sudah punya bukti kepemilikan berupa sertifikat tanah. Maka, kami khawatir kalau yang mengklaim benar – benar punya bukti kepemilikannya,” kata Riyanto tanpa menyebut nama warga yang mengklaim lahan tersebut.

Selain itu, Riyanto mengaku paska prosesi perataan lahan kala itu, biaya bulldozernya total keseluruhan cukup fantastis.Yakni, sekitar Rp 91 Juta. Dengan rincian hitungan sewa perjamnya senila Rp 300 ribu. Sedangkan dalam prosesi perataan lahan tersebut selama duapuluh delapan (28) hari.

“Praktis, total besaran biaya semuanya sekitar Rp 91 Juta. Dengan besaran anggaran tersebut, sumber anggarannya dari swadaya masyarakat setempat yang tergabung dalam Forum Peduli Aset Sumberejo (FPAS) dan beberapa Karang Taruna yang ada di Desa Sumberejo ini,” kata Riyanto.

Riyanto juga mengaku, supaya lahan kepentingan warga setempat itu ada kejelasan, maka warga yang tergabung di FPAS berencana akan melakukan upaya hukum.

“Namun upaya hukum apa yang bakal dilakukan, masih dikordinasikan dengan para ahli hukum. Mengingat dari pihak desa terkait bukti dokumen tanah yang dimaksud juga tidak ada, dan hanya sebatas ada keterangan di desa, bahwa lahan yang dimaksud statusnya tanah eigendom,” tandasnya.

Menurut dia, prahara tanah tersebut sudah puluhan tahun terjadi persoalan, sampai saat ini belum juga rampung.

Bahkan, kata Riyanto, setiap lima tahun sekali bisa dipastikan timbul gejolak. Sampai saat ini pun, dari pihak yang mengklaim tanah yang dimaksud, setiap diminta menunjukkan bukti kepemilikannya, dia tidak bersedia menunjukkan.

“Jadi kami berharap agar prahara ini segera ada titik temu, dan lahan yang sudah dijadikan lapangan bola itu, segera ada jalan keluarnya,” harapnya.

Sekadar diketahui, persoalan lapangan bola yang ada di wilayah Desa Sumberejo tersebut, sudah puluhan tahun digunakan sebagai lapangan bola oleh warga setempat. Meski begitu, lahan dengan luas 4000 meter persegi itu, dikabarkan ada pemiliknya.

Lantas, terkait lahan tersebut sudah seringkali terjadi gejolak dan sampai saat ini masih misteri kepemilikannya. Selain itu, Kades desa setempat, Riyanto, mengaku tidak punya data, dan hanya merujuk sebatas catatatan yang di desa, bahwa tanah yang dimaksud tanah bekas peniggalan Belanda (eigendom). (Risma)

Author: 
    author

    Related Post