Mariyadi: Ada Perkembangan Menarik Masalah Lahan PDAM Surabaya

8 views

Mariyadi, SH, MH, selaku perwakilan ahli waris yang sah.

Sabertipikor.com, Surabaya – Ada perkembangan yang baik tentang masalah lahan yang kini dipakai sebagai kantor PDAM Surya Sembada Surabaya yang megah itu, ternyata menyimpan persoalan.

“Harusnya kantor itu dikosongkan,” demikian kata Mariyadi, SH, MH, selaku perwakilan ahli waris yang sah, Kamis (7/10/2019).

Selanjutnya, ia memaparkan bahwa lahan itu sebetulnya berasal dari tanah EV 11404 yang luasnya 21.297 m2.

“Saya punya bukti kuat, tidak terbantahkan bahwa ada rekayasa terbitnya SGHB PT SG dan runtutannya,” papar Mariyadi.

Hal ini, masih kata Mariyadi, dibuktikan dengan buku tanah No 9066685 yang dikeluarkan oleh kantor Agraria Kotamadya Surabaya, yang ditanda tangani Kepala Kantor Agraria Soedjadi, tanggal 7 Juli 1983 atas nama PT SG, dengan surat ukur No 4240 tertanggal 16 – 6 – 1983 dengan luas 21.297,-m2,  di dalam ketetangan lain – lain disebutkan ” Hak Guna Bangunan ini didirikan di atas tanah negara no 3585 seb. Dan tanah EV 11404 seb.

Menurut sejarahnya, pada tahun 1926 terjadi pernikahan antara Soeradji, dengan Ny. Freda (peranakan Belanda) di Desa Curah Nongko Jember, Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan. Pasangan ini kemudian mengangkat anak bernama Suyati. Di samping anak angkat adalah anak keponakan dari Soeradji dan Nyonya (anak saudara laki-laki Soeradji dan anak saudara wanita Ny. Freda. Pada tahun 1930 Ny. Freda meninggal dunia, Soeradji kawin lagi dengan dengan Ny. Surati. Lalu pada 28 Maret1976 Soeradji meninggal dunia dengan meninggalkan harta sah milik almarhum,  yaitu:

– Rumah dan tanah di Jl Untung Surapati No 89 Jember.
– Rumah dan tanah di Jl Bengawan No 22 Surabaya lebih dikenal dengan Losmen Sederhana.

– Rumah dan tanah di Jl Gubeng Masjid Pojok No 4A Surabaya EV 11404 dengan luas 48,700 m2.

Namun sebelum Soeradi meninggal dunia telah memberikan wasiat (welingan) kepada Suyati pada tanggal 19 Oktober 1975 mengenai pembagian harta kekayaan sah milik Soeradji.

Setelah Soeradji meninggal maka terjadilah sengketa ahli waris antara Surati (istri Soeradji) dan Suyati anak angkat Soeradji. Dari sinilah kemudian tejadi gugat menggugat yang berlarut antara keduanya.

Dan saat terjadi sengketa itulah tiba-tiba PT SG mendapat SHGB. PT SG ingin menjadikan kawasan itu sebagai pusat perbelanjaan.

Namun, karena tak sesuai dengan peruntukannya maka tanah ex EV 11404 itu dijual ke PDAM Surabaya hingga kini.

Mariyadi dalam keterangan nya prihatin pada ahli waris yang sah, karena kondisi ahli waris saat ini dihidupnya susah, ada yang jadi pemulung, ada yang hidup di pinggir laut dlm kondisi sakit, bila air laut pasang sampai masuk ke dalam rumah nya, karena itulah saya saat ini mewakili para ahli waris yang sah untuk menggugat PT SG,” pungkas Mariyadi. (*)

Author: 
    author

    Related Post