Memaknai Perjuangan dan Kepahlawanan Masa Kini

Foto: Rizky Putra Yudhapratama, SH ketua DPD GNPK Jember (kanan) saat bersama Adi Warman, SH, MH, MBA Ketum DPN GNPK (kiri).
Oleh: Rizky Putra Yudhapradana, SH, ketua DPD GNPK Kabupaten Jember.

Sabertipikor.com, Jember – 10 November 1945, 73 tahun yang lalu. Di Kota Surabaya berlangsung sebuah peristiwa besar yang hingga kini tercatat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia sebagai simbol atas perlawanan Indonesia terhadap Kolonialisme dan merupakan legitimasi peran militer dalam perjuangan merebut kemerdekaan.

Dengan senjata yang seadanya, yaitu Pada beberapa pucuk senjata api, dan selebihnya menggunakan bambu runcing, hal itu tak membuat gentar untuk para pejuang untuk tetap melawan penjajah.

Dengan dukungan semangat dari seorang Bung Tomo yang mampu membakar dan tetap mengobarkan semangat perjuangan rakyat lewat siaran-siarannya radionya, para Pejuang seakan memiliki hal lain selain “senjata seadanya”.

Semangat untuk tetap hidup dan berjuang atau semangat mati karena berjuang. Tidak sedikitpun terpikir untuk mundur dan menyerah, karena menyerah adalah sebuah penghianatan.

Momentum setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan karena sejarah besar yang ditorehkan bangsa ini sekitar 73 Tahun yang lalu, karena darah dan keringat perjuangan yang ada dalam peristiwa tersebut. Itulah sebabnya, sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah “hadiah” dari bangsa lain, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan jiwa dan raga para syuhada pejuang dan “founding fathers” (Bapak-Bapak Bangsa) se-Nusantara dengan aneka keragaman latar belakangnya. Mereka berjuang dan berkorban, sejak periode “merebut kemerdekaan” hingga periode kritis ketika harus “mempertahankan kemerdekaan” yang telah diproklamasi.

Kita, bangsa Indonesia sebagai Bangsa yang besar sebagaimana yang dikatakan Bung Karno Bahwa Bangsa yang Besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya. “Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut. Tanpa jasa para pahlawan yang rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan hak Negara dan Bangsa Indonesia ini, kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara Indonesia seperti sekarang. Kita harus mampu mengenang dan menghargai pejuangan, pengorbanan para pahlawan dan pemimpin bangsa yang menjadi simbol negara Indonesia.

Bagaaimana saat ini? Saat kita sudah “diberikan” warisan hidup damai oleh para Pahlawan kita? Apakah perjuangan sudah berakhir? Perjuangan belum berakhir. Karena yang berhenti berjuang hanya makhluk mati. Selama kita masih hidup, kita masih tetap harus berjuang.
Kita, sebagai generasi muda, harus mampu memberi makna atas tonggak bersejarah kepahlawanan dengan tetap berkarya dan memberikan nilai-nilai perjuangan sesuai perkembangan zaman. Bangsa ini butuh masih banyak pahlawan-pahlawan baru untuk bersama-sama mewujudkan cita-cita menjadikan Indonesia yang damai, Indonesia yang adil dan demokratis, dan Indonesia yang bersih dan bebas korupsi.

Korupsi adalah KEJAHATAN LUAR BIASA.
Korupsi di Negeri ini ibarat Kanker , sudah mencapai Stadium Akhir Karena sudah melibatkan para pejabat tinggi dan yang paling menyedihkan sudah melibatkan para Oknum penegak hukumnya sendiri. Korupsi merupakan akar dari kehancuran sebuah negara. Korupsi ttidak hanya menjadi permasalahan para Aparat penegak hukum tapi semua elemen bangsa harus bergerak bersama Melawan Korupsi.

Butuh peran serta masyarakat dalam melawan Korupsi. Stop budaya Acuh tak Acuh terhadap Korupsi yang terjadi di depan mata. Stop membiasakan budaya “tahu sama tahu”. Stop membudayakan “Semua bisa diatur”.

Masyarakat harus sadar dan mau untuk melawan atas semua keadaan dan situasi yang dapat menimbulkan celah terjadinya Korupsi dalam bentuk apapun. Jadilah pahlawan-pahlawan baru untuk negeri Indonesia ini.

Karekteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat. Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Karena itu, hari pahlawan tidak hanya pada 10 November, tetapi berlangsung setiap hari dalam kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita berjuang paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga.

Ingatlah warisan apa yang akan kita berikan kapada anak cucu kita jika bangsa ini sampai hancur karena Korupsi.

Jadilah Pahlawan Baru untuk Negeri ini.

Katakan Tidak Pada Korupsi!

Aku, Kamu, KITA LAWAN KORUPSI!

Related posts

Leave a Comment