Skenario Pungli Terselubung Proyek Migas

Foto: (ilustrasi).

Sabertipikor.com – Maraknya praktek Korupsi dan semakin banyaknya Operasi Tangkap Tangan (OTT) tidak membuat jera para Koruptor tersebut. Hampir semua sektor ada korupsinya, seakan para Koruptor tidak jera dan kucing-kucingan dengan Aparat Penegak Hukum.

Apakah tidak jera atau memang sistem pemidanaan bagi para Koruptor ini? Saat tertangkap masih bisa tersenyum lepas, saat dipidana masih bisa hidup enak, mewah, dan kadang masih bisa pelesiran. Sungguh miris.

Bukan sesuatu yang berlebihan dikatakan hampir semua sektor dikorup oleh para Koruptor yang tidak pernah jera. Korupsi belum usai, ada pula yang dari dulu seakan “diabaikan”, yaitu Pungutan Liar (Pungli) karena dianggap “lumrah” dari nilainya yang relative kecil. Padahal dari kebiasaan buruk yang kecil ini akhirnya berkembang menjadi besar. Dan efeknya tetap sama untuk bangsa ini.

Ada suatu temuan proyek sektor Migas, yang dimana pemenang Proyek tersebut adalah salah satu perusahaan BUMN yang cukup terkenal di Indonesia, sebut saja PT. A. PT A ini memenangkan proyek dari sektor migas, dan kemudian menSubkon kan pekerjaan ini kepada suatu Perusahaan sebut saja PT. B karena PT. A butuh modal untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.

Sudah pasti ada pembagian keuntungan yang tidak sedikit dari proyek yang nilainya ditaksir mencapai 100 M tersebut. Kemudian oleh PT. B di SubKontrak lagi ke PT. C yang memang punya keahlian dibidang proyek tersebut.

Jadi masing-masing PT punya peranan penting dalam proyek tersebut.
PT A sebagai pemenang proyek, PT. B sebagai pemodal, dan PT. C sebagai pelaksana Proyek. Hal tersebut sudah menjadi pertanyaan. Berapa selisih masing-masing PT saat mengajukan penawaran? Jika ada selisih, bukanhak seharusnya Negara bisa efisiensi sejumlah tersebut dari proyek ini. Misal nilai proyek 100 M, lalu jatuh ke PT. B sebesar 80 M, dan jatuh lagi ke PT C sebesar 60 M. berarti seharusnya nilai proyek ini adalah sebesar 60 M (itu dengan kondisi tidak melihat keuntungan PT. C yang harus dianggap wajar karena sebagai pelaksana proyek). Yang menjadi pertanyaan  bagaimana anggaran ini diatur?

Lalu ada yang menjadi perhatian dalam proyek tersebut, yaitau adanya PT. D yang berada di antara PT. B dan PT C. Sebagai Pemodal bukan, sebagai pelaksana proyek bukan. Lalu sebagai siapa? Mendapat bagian? Tentu. Berperan? Belum tentu. Lalu kenapa ada PT. D di antara PT. B dan PT. C yang tentunya meminta keuntungan dari PT. C yang “tiba-tiba” berada di bawah PT. D (subkontraktor).

Bagaimana bisa PT. D ini ada diantara PT. B dan PT C? mendapat keuntungan hanya dengan “berada ditengah” antara PT B dan PT. C. Siapa dibalik PT. D?  Kita akan ulas lengkap di episode berikutnya.
(SonEagle)

Related posts

Leave a Comment