Tim Pusat Sejarah Polri, Kunjungi Monumen Status Quo

9 views
Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto saat sesi foto bersama tim pusat sejarah Polri  Kombes Pol M. Jufri, AKP Sigit, AKBP Yatni beserta ahli sejarah dari UM di monumen Status Quo Pujon

Sabertipikor.com – Pusat sejarah Polri melakukan kegiatan peninjauan ke Monumen Status Quo. Monumen tersebut adalah monumen bersejarah, tempat dimana perjuangan polisi kala itu dalam mempertahankan keamanan di wilayah Pujon. Yang berlokasi di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.

Tim dari pusat sejarah Polri yang dipimpin oleh, Kombes Pol Muhammad Jufri., S.es Pussejarah Polri tersebut, didampingi oleh AKBP Sigit dan AKBP Yatni. Kedatangan tim dari pusat sejarah Polri itu, langsung disambut oleh Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto, S.I.K., M.Si., beserta Wakapolres Batu dan para pejabat utama di jajaran Polres Batu.

Ketika, Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto mendampingi kedatangan tim pusat sejarah Polri di Monumen Status Quo Pujon

Dalam sambutannya, Kapolres Batu menjelaskan, tentang  cerita sejarah singkat perjuangan Polisi Keamanan yang waktu  itu, menjaga garis demarkasi, antara daerah pemerintah Republik Indonesia dan daerah pendudukan penjajahan Belanda.

“Setelah perjanjian Renville, tepatnya pada 8 Desember 1948, pemerintah Belanda telah menetapkan garis demarkasi atau garis status quo, yang salah satunya garis “Van Mook” (Status Quo Lijn) di Desa Pandesari ini. Pada waktu itu, tepatnya 19 Desember 1948, pasukan tentara Belanda yang dipimpin oleh Mison, melakukan provokasi dan melanggar garis Status Quo tersebut. Namun setelah diperingatkan oleh AP. III Katjoeng Permadi, penjaga Pos I bersama AP. III Soekirno dan AP. III KAMSO, pasukan tersebut lalu kembali ke wilayah Batu. Akan tetapi, pada waktu tengah hari, pasukan tentara Belanda tersebut menyerang Pos I dari arah timur, yang mengakibatkan gugurnya AP. III Katjoeng Permadi. Sedangkan serangan pada Pos II dari arah utara itu, mengakibatkan gugurnya AP. II Soejadi. Dan AP. II Peril, dirinya sangat beruntung karena hanya mengalami luka tembak saja,” terang Kapolres Batu. Rabu (6/12/2017).

Ia menambahkan, guna untuk mengenang perjuangan dalam melawan penjajahan Belanda pada Agresi ke II, maka dibangunlah sebuah monumen perjuangan di garis Status Quo tersebut.

“Peletakan batu pertama dalam pembangunan monumen ini, dilakukan pada 17 September 1982. Kemudian setelah tiga bulan dalam proses pembangunannya, monumen tersebut akhirnya diresmikan pada 27 Desember 1982, oleh Pangdam VIII Brawijaya, Mayjen TNI AD Moergito,” jelasnya.

Ketika, Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto, sedang menceritakan tentang sejarah perjuangan Polisi dalam mempertahankan keamanan di wilayah Pujon

Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Batu juga menerangkan, kegiatan yang telah dilakukan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Tahun 2017, antara lain melakukan Forum Grup Diskusi menelusuri sejarah perjuangan Bhayangkara di garis Van Mook. Dengan menghadirkan pelaku sejarah pejuang, diantaranya Supeno, Ngatemun, Ngaisah, Saimo dan Hoesodo dan Ari Sapto.

“Ya mereka semua adalah ahli sejarah dari Universitas Negeri Malang (UM). Untuk pertama kalinya dalam peringatan Hari Pahlawan Tahun 2017,  Polres Batu menggelar upacara peringatan Hari Pahlawan yang bertempat di Monumen Status Quo. Itu semua dilakukan, sebagai penghormatan dan sekaligus juga untuk mengenang kepada pejuang Polisi Keamanan yang gugur di garis Status Quo,” imbuhnya.(Risma)

Author: 
    author

    Related Post