Warga Masyarakat Ngantru Gelar Bersih Desa

Warga masyarakat Desa Ngantru tengah melaksanakan hajatan (kenduri) sebagai wujud rasa syukur kepada Allah.

Sabertipikor.com, Kabupaten Malang – Seluruh warga masyarakat Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang menggelar bersih desa.

Kegiatan itu dilaksanakan mulai Senin (9/3/2020) – Selasa (10/3/2020), pukul 06.00 WIB – 20:00 WIB.

Pada giat selamatan desa tersebut menyuguhkan berbagai rangkaian diantaranya yakni, penyembelihan hewan kerbau sebagai simbul prosesi bersih desa. Pasalnya, kerbau yang disembelih merupakan kerbau jantan. Kemudian, hasil daging yang telah disembelih itu dibagikan kepada seluruh Warga Desa Ngantru, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang.

Selanjutnya, para warga dihibur dengan seni tayub campursari.

Sedangkan malam harinya sebagai puncak kegiatan yang sakral, warga masyarakat setempat melaksanakan kegiatan selamatan atau kenduri sembari berdoa bersama yang dipimpin oleh Suyono selaku tokoh adat Desa Ngantru.

Mereka (warga masyarakat setempat) memohon kepada Allah SWT, agar Desa Ngantru dijauhkan dari segala malapetaka dan dijadikan desa yang “makmur gemah ripah lohjinawi toto tentrem karto taharjo”.

Kemudian, sekitar pukul 20.00 WIB – 23.30 WIB  dilaksanakan “Ritual Ladrang” dimana kegiatan tersebut berisi sesuguh, doa dan pembacaan sejarah tentang Desa Ngantru,  Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Ritual tersebut dipimpin oleh Suritno, tokoh masyarakat Desa Ngantru.

Kanit Intelkam Polsek Ngantang tampak berbaur dengan warga masyarakat Desa Ngantru.
Suasana berlangsungnya selamatan bersih Desa Ngantru.

 

Ia menceritakan sejarah Desa Ngantru adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Ngantang. Di mana Desa ini terhitung sebagai desa kuno yang dibuka awal berasal dari hutan belantara dan nama Ngantru sendiri artinya adalah menunggu atau beristirahat.

“Ada salah satu versi asal muasal desa tersebut yakni keberadaan Ki Demang Radi Kupo yang dianggap sebagai  yang pertama kali membuka dan membabat hutan belantara di wilayah tersebut. Ki Demang sendiri adalah penggawa dari Kerajaan Mataram.

Wilayah hutan yang berada di lereng Gunung Amping tersebut memang terbilang menyeramkan, Karena selain sangat jauh dari permukiman penduduk, di sana juga masih terdapat banyak sekali hewan buas sehingga sering dikatakan jika ke hutan Ngantru akan seperti ‘Jalmo moro, Jalmo mati’, artinya tiap manusia yang datang pasti akan mati karena banyak nya binatang buas yang tinggal di sana.

Saat Ki Demang membuka hutan, dia tidak tersebut tidak, namun dibantu oleh pengikut atau pengawalnya yaitu Ki Rajekwesi, Ki Joko Untung, Ki Jalijarang, Ki Tedjo Sadewo, Ki Jenggot Samber Nyowo, Ki Sunan Muliono, dan Ki Kartubi. Dikisahkan, dalam perjalanan menuju hutan tersebut mereka berhenti di sebuah tempat yang bernama Brukan. Saat ini Brukan yang dimaksud adalah perbatasan Desa Ngantru dengan Banturejo.

Pesona alam di wilayah Ngantru yang dekat dengan pegunungan membuat Ki Demang yang beristirahat tadi memutuskan untuk membuka hutan, di sisi lain, tanah hutan yang sangat subur membuat mereka bisa bercocok tanam dengan baik akhirnya Ki Demang berikut kerabat dan juga pengikutnya disebut sebagai bedah kerrawang Desa Ngantru atau orang yang pertama kali tinggal.

Sampai beliau wafat kemudian tampuk kepimpinan di pegang oleh Ki Rajek Wesi, tapi pada waktu itu belum tertata sistem pemerintahan seperti saat ini, baru setelah sampai pada sosok pemimpin yang bernama Yung Darinah, dirinyalah yang mengawali adanya sistem pemerintahan di wilayah tersebut dan akhirnya memberi nama Ngantru yang berasal dari kata Antru yang artinya menunggu,” demikian kata Suritno mengakhiri cerita sejarah Desa Ngantru. (Risma)

Related posts

Leave a Comment